Pegelaran Hari Budaya 2026, Kabupaten Kepahiang Tampilkan 3 WBTB Pada Acara Brendo Budaya

Kepahiang68 Dilihat

KEPAHIANG, siberkreatif.com – Merawat tradisi, menjaga identitas daerah. Semangat inilah yang mewarnai peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 di Kabupaten Kepahiang, Jumat (16/10/2026). Melalui kegiatan bertajuk “Berendau Budaya”, tiga Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) khas Kepahiang ditampilkan dalam bentuk pertunjukan teaterikal yang menarik perhatian para tamu undangan dan siswa sekolah.

Ketiga warisan budaya tersebut yakni Bokoa Iben, Min Cubi Mai Bio, dan Ngidang. Ketiganya diperagakan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, Wakil Ketua I DPRD Kepahiang Bambang Isnan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang Dr. Nining Fawely Pasju, S.Pt., M.M., sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan dari kabupaten lain.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Edo Ramadan, S.Pd., M.Pd., mengatakan, kegiatan Berendau Budaya merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 yang dilaksanakan di kabupaten dan kota se-Provinsi Bengkulu.

Menurut Edo, keunikan kegiatan ini terletak pada penyajian tiga WBTB Kepahiang dalam bentuk teaterikal sehingga masyarakat dapat mengenal tradisi daerah secara langsung.

“Untuk Kabupaten Kepahiang, kita mengangkat tema Berendau Budaya. Dalam kegiatan ini, kita menampilkan tiga Warisan Budaya Tak Benda, yaitu Bokoa Iben, Min Cubi Mai Bio, dan Ngidang,” ujar Edo saat diwawancarai di lokasi acara, Jumat (16/10/2026).

Ia menjelaskan, pertunjukan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk mendekatkan kebudayaan lokal kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar.

Karena itu, sejumlah siswa sengaja diundang agar dapat menyaksikan secara langsung berbagai tradisi yang dimiliki Kabupaten Kepahiang. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengenal budaya melalui cerita atau pembelajaran di sekolah, tetapi juga memahami bentuk dan praktik tradisi yang diwariskan oleh masyarakat.

“Kita berharap budaya-budaya di Kabupaten Kepahiang semakin dikenal oleh anak-anak sekolah. Dengan begitu, budaya yang kita miliki dapat terus dilestarikan dan tidak terputus begitu saja. Makanya, kita mengundang para siswa untuk melihat dan mempelajarinya secara langsung,” jelasnya.

Edo menambahkan, kegiatan juga dilanjutkan dengan penampilan dari berbagai sanggar seni untuk menyemarakkan peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026.

Balai Pelestarian Kebudayaan Beri Apresiasi

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Bram Iswanto, S.E., M.M., dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu.

Ia menilai, kegiatan Berendau Budaya menjadi ruang penting untuk memperkenalkan warisan budaya yang telah ditetapkan bagi Kabupaten Kepahiang sekaligus memperluas informasi mengenai kekayaan budaya daerah kepada masyarakat.

“Kami dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bengkulu mengapresiasi kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 yang dilaksanakan serentak di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu,” ungkap Bram.

Ia mengatakan, pengangkatan tiga warisan budaya, yakni Min Cubi Mai Bio, Ngidang, dan Bokoa Iben, menjadi salah satu daya tarik dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan kebudayaan seperti ini dapat menjadi sarana edukasi sekaligus ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk merayakan keberagaman tradisi yang dimiliki daerah.

Bram berharap, melalui kegiatan tersebut, informasi mengenai Hari Kebudayaan Nasional semakin luas menjangkau masyarakat, terutama generasi muda dan kalangan pelajar.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan informasi yang luas tentang semarak Hari Kebudayaan Nasional kepada masyarakat umum dan anak-anak sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang kebersamaan untuk merayakan Hari Kebudayaan Nasional 2026,” tuturnya.

Melalui Berendau Budaya, Pemerintah Kabupaten Kepahiang berupaya menjadikan pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan dan kehidupan masyarakat. Pengenalan tradisi sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerah sekaligus memastikan warisan budaya Kepahiang tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Hr)

Komentar